3.08.2012

Diorama Dalam Cerita


Aku sudah mulai akrab dengan Jl Kapten Ahmad Rivai Palembang, setiap pagi dan sore hari, jalan ini aku tempuh terus lurus ke perempatan jalan sampai menghilang dikelokan menuju kawasan Kambang Iwak. Banyak hal yang lalu biasa aku lihat mulai dari ketika kehidupan baru saja mulai bergeliat hingga ketika kembali matahari mulai turun pertanda senja tiba. Hari masih terang- terang tanah biasanya...

Lain jiwa lain cerita, kadang kala di setiap beberapa puluh langkah, pikiran ini sudah melayang melintasi batas ruang dan waktu, jauh ke sisi Barat pulau Lombok di Desa Senaru, karena diwaktu yang sama ada cerita tentang Pak Rasiana yang kala itu tengah bermain bola dengan para pemuda setempat untuk persiapan pertandingan antar desa. Hidup beliau sederhana, menghabiskan masa tua di kaki gunung Rinjani bersama dua putri dan istri, ia membuka toko makanan sederhana yang bisa dibilang agak jauh dari sentra keramaian dan sehari- harinya beliau kadang bekerja menjadi tukang ojek, ambisi hidup dengan beratasnamakan kedudukan dan pangkat sepertinya tidak berani singgah ke jiwa Pak Rasiana dan keluarga. Sungguh tenang.

Sementara itu disaat yang sama pula, di Jakarta sana, ada jiwa yang sering kali pikirannya tak lepas dari strategi dan langkah agar bisa menapaki tangga karir dengan mulus, kadang kala dalam diam pikirannya bekerja memperhatikan perjalanan karir rekan sejawatnya atau para pembesar diatas sana sekaligus menertawakan mereka yang menurut nya kurang cerdas, tak pandai strategi dsb. Semuanya mengarah pada ambisi terpendam yang tidak bisa diam dalam cerminan langkah dan sikap, meski mulutnya bungkam. Tidak kah kau ingin hidup tenang kawan? Begitu hebatkah strategi mu sehingga kau berani menegasikan takdir ALLAH.SWT? Sungguh malang. Ambisi demi pangkat sudah bercokol menggerus ketulusan kerja mu.

Ingin suatu saat bisa kembali mengunjungi kediaman Pak Rasiana jauh nun di Barat Lombok sana, mungkin kelak suatu saat yang tidak dalam waktu dekat ini. Ingin pula kelak dapat kembali ke Jakarta untuk mengenyam pendidikan di STAN, kini dan kala itu diorama hidup disetiap sudut dunia akan tetap berjalan dengan berbagai cerita, watak dan kejadian. Dan hidup tidak akan berarti apa- apa tanpa menjalaninya dengan prinsip dan pendirian serta satu belahan jiwa yang akan selalu hadir menguatkan.


0 komentar:

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.