3.17.2012

Profesionalitas atau Rasa Tidak Enak? Pilih!


Baru saja pagi ini, teman akrab dari kekasihku menelepon untuk meminta bantuan untuk membuatkan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). Sempat sebelumnya aku jelaskan bahwa prosesnya tidak lah rumit, hanya datang ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai alamat kegiatan usaha berada dengan membawa dokumen yang disyaratkan: Kartu NPWP dan Surat Permohonan lalu langsung datang untuk melaporkan, setelah itu proses berjalan dengan sendirinya, selesai dan tanpa ada biaya.

Begitu ku jelaskan kepada nya, namun yang ia inginkan bukan hanya sekedar penjelasan rupanya, tetapi sekaligus langsung jadi saja atau terima jadi/ tahu beres saja. Disini aku keberatan bukan karena aku enggan membantu namun rasanya jika dibiasakan akan tidak mendidik masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi ada semacam background process yang membuat Wajib Pajak harus datang sendiri seperti penandatanganan, pembuktian alamat hingga verifikasi lapangan atau kegiatan usaha. Tapi apa daya, sang teman sudah terlanjur kecewa mendengar bahwa aku tidak bisa membantu jika ia hanya mau tahu beres karena ku jawab itu tidak mendidik, karena mungkin memang belum sempat aku jelaskan background process itu tadi.

Aku berpikir tentang kekasihku, bagaimanapun sang teman adalah teman akrabnya. Kekasihku pun sering meminta bantuannya untuk urusan pribadinya, namun mendengarku menolak permintaan teman akrabnya tentu membuatnya kecewa atau paling tidak membuatnya singkuh untuk meminta bantuan sang teman di masa mendatang. Tapi jika permintaan temannya kuturutkan, akan lebih banyak lagi yang aku langgar, mulai dari kode etik ku sebagai pegawai hingga kata hati ku sendiri. Ku harap sang teman tadi bisa mengerti dan maklum mengapa aku mengambil sikap demikian serta tetap bersikap biasa kepada kekasihku tanpa mengait-ngaitkan kekecewaanya barusan.

Sebetulnya, ini buka kali pertama aku menolak dimintai bantuan untuk hal- hal yang tidak sesuai aturan, pernah dulu terkait masalah PBB dan PPN bahkan oleh orang- orang yang masih merupakan keluarga sendiri. Aku menolak dengan tegas untuk memberi bantuan karena kudapati itu menyalahi kode etik, tapi apa lacur aku malah dituding sombong lantaran sudah bekerja di Ditjen Pajak. That’s people, they will keep on talking, and the way i respond is what makes me, begitu akhirnya aku mengambil kesimpulan dengan tidak terlalu mendengarkan perkataan mereka, yang penting aku bekerja dengan benar dan lurus.

Aku bilang ke kekasih ku, bukan maksud aku untuk tidak mau membantu, namun itu memang diluar kuasaku karena tidak sesuai dengan ketentuan. Mungkin salah ku memang belum sempat menjelaskan dengan detil dan langsung tembak bahwa jika ku bantu itu maka itu adalah sikap yang tidak mendidik Wajib Pajak, tolong jelaskan saja kondisinya ke teman mu semoga ia mau mengerti, begitu ku pinta kepadanya. Ini mungkin yang disebut dengan ujian dalam menjalankan prinsip, disaat kita memegang teguh prinsip maka disaat yang sama orang- orang akan berpikir kita susah diajak kompromi dan berkribadian sulit. C’est la Vie.

P.S:
----
Gambar diambil dari sini...

2 komentar:

  • Fly^Pucino says:
    13 April 2012 at 13:14

    Hanya ada satu kata EW "LAWAN" ==>> iki kata-kata yang sering aku gunakan saat demo jaman mahasiswa dulu saat orasi. Haaaahaaahaaa

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    14 April 2012 at 09:12

    @AD: itu AD berbakat jadi orator juga kah kayaknya? :D pake karton yg ada tulisannya g tuh? hehe.. mmhh... harusnya memang selalu begitu AD, namun masih banyak dari kita atau mungkin diri kita sendiri yang masih terjebak dalam adat ketimuran dan masih dipegang diatas profesionalitas.

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.