3.28.2010

Kasus Gayus dan Kisruh Media


Nama saya Erikson, alumni STAN yang kini bekerja di Ditjen Pajak, harapan saya mohon kawan2 tidak mengeneralisir saya, kampus saya dan institusi tempat saya bekerja karena perbuatan oknum yang melanggar peraturan..terima kasih..

Lalu apa hubungannya saya dan Gayus. Mmmmm.. cukup dua kata saja untuk menjelaskannya: STAN dan DJP.. ya sekali lagi STAN dan DJP.. saya eja yaa... S.T.A.N dan D.J.P... STAN adalah sebuah perguruan tinggi kedinasan dibawah naungan Departemen Keuangan yang mendidik mahasiswanya diberbagai bidang disiplin ilmu keuangan: sebut saja Akuntansi, Pajak, Penilai, Bea Cukai, Piutang Lelang, Anggaran dan Penilai, sementara DJP.. ahhh semua taulah tak perlu saya jelaskan rasanya.. Lalu alkisahnya, saya dan Gayus ini sama-sama merupakan alumni STAN dengan jurusan yang sama yaitu Perpajakan, hanya beda tahun angkatan dan sama-sama bekerja di DJP, persisnya Kantor Pusatnya di Jalan Jend Gatot Soebroto, Jakarta Selatan.

well..well..tapi tidak juga sampai disitu bedannya saya dan Gayus, karena sekarang Gayus lebih Terkenal, lebih kaya (seperti dilansir Media Massa). Singkat kata ya... satu kampus beda jalan. Nama Gayus makin merebak di media dan halaman utama harian nasional beberapa hari belakangan ini karena laporan Susno Duadji tentang adanya Makelar Kasus di POLRI yang melibatkan kantor Ditjen Pajak. Gayus ditengarai melakukan pelanggaran dalam pelaksanaan tugasnya sebagai seorang pelayan masyarakat dibidang perpajakan.

Begitulah permainan Gayus tersibak .. lalu terjadi Gayung bersambut dimedia, seperti yang saya pahami bahwa bagi media: 'Bad News is a Good News'. dan berita buruk kasus Gayus ini yang membawa duka bagi negeri menjadi bahan yang bagus untuk terus dikabar-kabarkan ke 220 juta masyarakat Indonesia, saya setuju karena itulah tugas Media, karena sebagai PNS, saya juga adalah penduduk yang berhak tahu tentang kejadian apa yang terjadi dinegeri ini, salah satunya ya lewat Media.

Bahkan Media tampaknya telah bergerak jauh lebih cepat daripada POLRI sekalipun ketika salah satu Media Nasional, bernama TVONE menyajikan informasi tentang latar belakang kehidupan Gayus, keberadaan dimana Gayus kini, Harta Kekayaan Gayus, bahkan Latar Belakang pendidikannya dan isu terakhir lainnya seputar kasus Gayus. Kemudian jika atas semua hal itu, media mendapat pujian tak terbendung sebagai agen pencerdas masyarakat lewat semua sajian itu, setujukah saya?setujukah kita?
Saya secara pribadi hanya akan setuju hanya jika penyajian yang ditampilkan adalah secara berimbang dan tidak semakin memanas-manasi keadaan, karena ibarat kata sekarang kita ini sebagai masyarakat kebanyakan yang sedang mengalami mad of anger, jadi tidak tepat jika dipancing-pancing.. dipanas-panasi dengan sajian yang semakin berat sebelah..

Dikatakan berat sebelah jika informasi yang disampaikan itu tidak menciptakan keadaan yang bersifat menenangkan, prinsip Bad News is A Good News disalahartikan dengan tindakan untuk semakin menggembargemborkan keadaan,sehingga mendorong untuk mempertahakan keadaan menjadi tetap panas, gerah dan tak berkesudahan. Tak ada lagi ruang bagi masyarakat dan DJP untuk bertindak tenang, memikirkan apakah sudah tepat dukungan untuk memboikot pembayaran pajak yang sebenarnya memunculkan akan masalah baru lagi, karena perintah membayar pajak itu adalah perintah dari Undang-Undang, yang artinya ketika melawan Undang-Undang justru sama dengan melawan Konstitusi.

Yang semakin dikhawatirkan adalah terjadinya pembentukan opini akibat pemberitaan yang tidak proporsional. Opini yang membentuk pola pikir kita sebagai masyarakat, tanpa dilandasi akal sehat namun hanya emosi, kecewa dan benci. Coba lihat bagaimana media telah dengan gamblang dan berkali-kali memaparkan STAN sebagai institusi Gayus menimba ilmu dulu itu, sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu, namun terlalu sering menunjukkan hal itu apakah wajar?? Padahal 30.000 pegawai DJP tidak hanya berasal dari STAN, banyak juga yang berasal dari PTN dan PTS dalam dan luar negeri. Apakah tepat kelakuan salah seorang oknum dikait-kaitkan dengan alumninya?

Hal lain yang serupa dengan itu adalah pemberitaan latar belakang kehidupan Gayus yang seolah- olah ingin menunjukkan perbendaan kontras fisik bangunan rumahnya dulu dengan sekarang, kenapa tak diusut saja tentang hal lain yang berisi hal baru tentang kemajuan kasus Gayus, kenapa masih terus menerus menunjukkan semua harta kekayaan Gayus, yang menurut saya semakin memperburuk emosi kita yang mendengarnya, untuk kemudian berprasangka jahat bahwa semua itu didapat dari hasil penyelewengan, dan sampai akhirnya terciptalah opini umum bahwa orang yang kerja di pajak itu kaya, sebuah opini yang takutnya bakal melekat kuat dipikiran masyarakat. Dan efek lainnya yang bakal terbentuk adalah: antipati berurusan dengan pajak, rasa benci dengan orang pajak, dan keenggenanan mematuhi kewajiban perpajakan.

Sekedar mengingatkan bahwa media dulu pernah dengan bombastis terus menerus memberitakan Kasus Antasari, lalu tenggelam oleh pemberitaan Kasus KPK-POLRI, lalu hilang ditelan kehebohan kasus Bank Century dan kini hasilnya?? tak ada satu kasuspun yang jelas penyelesaiannya.. hanya menunggu.. menunggu dan menunggu untuk kemudian terlupakan oleh kasus yang lain... ah jangan kan itu.. kasus Munir pun sampai sekarang tidak jelas ujung penyelesaiannya.. Kenapa tidak Media-Media itu secara kontinyu mengabarkan perihal kasus-kasus yang nyaris hilang dari peredaran.. daripada terus-menerus mengulang pemberitaan yang sama yang berisi hal-hal yang itu-itu saja.. Ok, bolehlah mengabarkan secara terus menerus.. namun tetap utamanya adalah menyajikan hal-hal yang baru yang disajikan secara berimbang.. agar turun tensi emosi kita sebagai masyarakat, agar bisa kita berpikir lebih jernih..

Saya sebagai alumni STAN hanya meminta kepada media agar jangan bawa nama kampus saya dalam kasus ini sebagai elemen yang menjadi satu kesatuan dengan kasus yang dilakoni Gayus, letakkan lah pemberitaanya secara proporsional. Kampus adalah institusi mulia tempat menimba ilmu dan menempa pribadi melalui proses kegiatan belajar mengajar dengan dosen, namun semuanya dikembalikan lagi ke manusia yang bersangkutan. Kampus hanya memberitahukan mana yang benar dan mana yang salah, selebihnya adalah manusia itu sendiri yang nanti memilih dan menjalaninya dengan segala konsekuensi yang sudah dipahami.

Saya sebagai pegawai Ditjen Pajak meminta kepada media untuk turut serta menciptakan suatu pemberitaan yang mendukung terciptanya suasana yang tenang bagi Ditjen Pajak dalam menangani kasus Gayus ini, agar bisa diambil langkah yang tepat dan tidak gegabah karena bisa jadi ikut terdorong arus emosi yang kian memanas ini. DJP bagaimanapun sedang berupaya yang berkelanjutan memperbaiki diri meningkatkan performa pelayanan kepada masyarakat, ibarat gading yang tak retak, namun DJP akan bertindak tegas oknum yang merusak jalan upaya itu, baru baru ini 10 atasan Gayus telah dinonaktifkan dari jabatannya di Kantor Pusat Ditjen Pajak menunggu sampai Gayus dapat dimintai keterangan dan kemudian ditindaklanjuti sesuai keterangan yang diperoleh.

Saya sebagai masyarakat juga memohon kepada media untuk tetap fokus menginformasikan kasus-kasus heboh yang dulu sempat mengemuka namun sekarang tak ada lagi kabarnya.. saya ingin tahu sampai dimana proses Banding yang rencananya diajukan Antasari, atau kasus Munir yang makin jelas ketidakjelasanya. Saya bosan dengan keadaan saling melupakan seperti ini. Media seperti berlomba mengejar nama besar dengan bombastis memberitakan hal yang lagi ramai dibicarakan dan sembari dengan itu kembali saya mempertanyakan.. apa dasar mereka melakukan itu semua?

Tentang Kasus Gayus ini, kenapa Media tak menyempatkan meliput sejumlah keberhasilan modernisasi yang telah dijalankan DJP, atau sedikit mewawancari pengusaha tentang rasa baru pelayanan DJP setelah modernisasi digulirkan, apa semua mengecewakan? apa semua murni berisi kemunduran sama sekali? Jika itu yang ditampilkan, saya yakin bahwa generalisasi pemikiran terhadap instittusi bernama DJP dan semua pegawainya dapat dihindari.

Nama saya Erikson, alumni STAN yang kini bekerja di Ditjen Pajak, harapan saya mohon kawan2 tidak mengeneralisir saya, kampus saya dan institusi tempat saya bekerja karena perbuatan oknum yang melanggar peraturan..terima kasih.

P.S:
----
Gambar diambil dari http://kfk.kompas.com/system/files/imagecache/sfk_preview_600x600/Tegar_dalam_Kesusahan.jpg

18 komentar:

  • erry f muharrom says:
    31 March 2010 at 05:46

    saya erry, masih sendiri ..

  • Anonymous says:
    31 March 2010 at 15:47

    Nyantai sj mas erikson..jgn salahkan media dgn pemberitaannya yg menurut anda terlalu memojokkan instansi DJP dan almamater..selagi anda bersih, jujur kenapa harus repot.biarkan masyarakat berpegang pada opininya sendiri.Mohon maaf ya jgn salahkan masy yg memandang kalo pegawai pajak itu kaya...ya memang keaadaanya spt itu..dgn gaji yg lebih besar dr PNS lain...sudah sewajarnya kalo kehidupan peg pajak lebih dr cukup.Teman2 saya banyak jg yg lulusan STAN kehidupannya jg mapan..kerja 4 th sudah punya rumah dan mobil

  • Erikson Wijaya Bin Asli Aziz says:
    8 April 2010 at 16:23

    @Erry: waduuuhhhh salah alamat ini pasti hahahahah =)) ; jayus ahhh :P

  • Erikson Wijaya Bin Asli Aziz says:
    8 April 2010 at 16:26

    @anonymous: waduhh sayang anonymous jd g bs kenalan iniiii.. :D tapi terima kasih ya.. mmhh saran saya sebaiknya cari tahu dl apa bener tu 4 tahun kerja sudah bs begitu, jangan2 orang tuanya yang kaya, atau bisnis nya banyak atau juga kreditan hheheheh.. tapi insyaALLAH semoga saya bs terjaga dr hal2 seperti itu, tulisan ini bukan bentuk kerepotan kok, hanya upaya menggunakan hak unutk angkat berbicara mengingat terlalu banyak generalisasi yang diambil termasuk kampus Gayus ya kampus saya juga :)

  • Fi says:
    9 April 2010 at 01:33

    saking terkenalnya gayus, sekrang kernet2 angkotan kota jika mau menurunkan penumpang yang kebetulan karyawan kantor pajak teriaknya" gayus...gayus...turun!!"

  • ninneta says:
    9 April 2010 at 17:25

    mas rikson, nggak usah terlalu ditanggapin serius, ntar stress sendiri. Biasalah begitu, kalo ada 5 orang, yang 4 gila, yang 1 waras, pasti dibilang 5 orang gila, bukan 5 orang waras.

    Yang penting orang juga liat mas baik, kerja bener nggak korup, pasti lama-lama mereka akan liat kok.... :)

  • Anonymous says:
    9 April 2010 at 23:30

    Loh?! Komentarku kok ndak ad? Pdhl udah ketik panjang lbaaarr.. :( hhh.. Ndak apa wes,komen lgi.. Yg penting eksis d BSE. Sbnrx mau komen d fb..,tp kok tengok kri kanan cman st biji yg aq knal. Tkut ah.. "Klo bc tlsan ini blom jelas jg org2 itu.. suruh bc komen2 d fbmu.. Tak peduli ad brp gayus d pajak.. Tp yg aq tau msh bnyk superman,spiderman,wonder women, x man, cat woman,dll d pajak. smua kemarahan dan bntk protes kalian adalah janji kalian yg hrs dbuktikan!" BTW,Bnyk dkt dgn org pajak jg kna imbasx.AD

  • Erikson says:
    10 April 2010 at 19:56

    @ninetta:hehehe makasi nit, iya sih kesanya serius banget ya, soalnya g tau mau pake cara apa, ya udah akhirnya nulis ginian buat angkat bicara.. hahaahha daripada aku angkat senjata :)) sipp makasih ya nit... tapi kasian juga kalo jadi yang 1 diantara 5 itu, diem salah, ngomong slaah.. ya udah deh.. let it disappear by the time pass us by ...

  • Erikson says:
    10 April 2010 at 19:58

    @AD:hadooooohhhhhhhh aku kehilangan satu komen potensial.. aku yakin itu pasti sangat berkualitas.. hiks... ~x( tapi makasih banyak AD.. oh ya aku akan segera nuliskan cerita Gede Pangrango kemaren loo tungguin ya.. sama sekalian maen ke Aathena :) hehhee... aku g perlulah jadi superman, cukuplah Eriksonman hahahha...

  • Anonymous says:
    12 April 2010 at 12:40

    kira2 ada pengaruhnya g ya, kasusnya gayus ni ma orang yg mau bayar pajak??
    pemerintah sendiri lagi gencar2nya ne agar masysrakat wajib bayar pajak....
    tapi kl ada oknum ky gayus ni, masyarakat khn jadi gak pecaya ma instansi pajak...

  • Elsa says:
    14 April 2010 at 11:34

    son...
    karena sibuk di rumah sakit waktu itu, aku baru nyadar kalo sudah telat waktunya menyetorkan pajak pribadiku.

    akhirnya aku bayar awal april.

    bayarnya dengan sangat sangat sangat berat hati. karena katika menyetorkan uang, yang ada di kepalaku... nih uang akan diterima oleh orang orang macam Gayus...

    seandainya saja, semua pegawai pajak sepertimu ya Son...

  • Anonymous says:
    18 April 2010 at 18:33

    Adalah wajar membela almamater dan institusi yang memberi anda sesuap nasi (kalo ga mau dibilang segepok duit). Tapi kalau kemudian malah menyudutkan media dan memaksakan sudut pandang anda sendiri yang memang wajar ada biasnya (kenyataannya anda orang STAN dan DJP, sama persis backgroundnya sama si Gayus "perampok uang rakyat")tentu masyrakat dapat menilai mana yang benar. Yang perlu Anda lakukan hanya satu, bekerjalah sebaik-baiknya di institusi Anda dan buktikan Anda bersih. Tidak perlu koar-koar di blog dan memuncratkan pendapat bias Anda..Apa kata DUNIA??

  • Erikson says:
    19 April 2010 at 06:47

    @Elsa:seandainya semua WP juga kayak mbak Elsa hehhee.. sabar aja mbak.. pelan2 bersih lah negara kita ini dari perampok2 macam itu..

  • Erikson says:
    19 April 2010 at 06:53

    @Anonymous: terima kasih komentranya bung anonymous.. sayang anda tidak berani memunculkan ID anda secara langsung jadi saya tidak tahu dengan siapa saya ini berbicara, mana tau mungkin kita bisa diskusi lebih jauh ;)) well.. saya menghargai sekali masukan situ supaya saya bekerja sebaik2nya, insyaALLAH saya akan begitu.. :) dan nanti kita lihat DUNIA AKAN BERKATA APA... :)

  • Anonymous says:
    19 April 2010 at 22:32

    Keliatan banget songongnya orang STAN n DJP ini. Saya dukung bung Anonymous aja yang mewakili rakyat jelata yang juga uangnya dirampok orang-orang seperti Gayus.

  • Erikson says:
    19 April 2010 at 22:41

    @Anonymous(15): maaf kalo ada kesan yang menurut situ songong, dan mohon jangan bawa2 almamater dan institusi kita itu secara general.. dan sekedar menambahkan bahwa uang yang 'dimainkan' Gayus itu adalah uang wajib pajak wajib pajak tertentu yang mau diajak main oleh Gayus, jadi bukan uang rakyat jelata seperti kita, karena uang pajak yang kita bayarkan itu sudah masuk ke kas negara di bank, bukan di orang pajak.. saya paham tentu penjelasan saya ini tetap salah dimata mereka yang sudah kadung kecewa/emosi terhadap DJP, karena ini ibaratnya seperti kondisi panas yang dimana apapun yang DJP lakukan untuk membela diri tetaplah salah, ini salah, itu salah.. sementara jika tetap diam nanti justru dianggap meng-iya-kan, bukannya kami tidak bekerja secara profesional, namun apakah kami tidak boleh angkat bicara tentang kasus ini?menyampaikan pendapat dari sisi lain sudut pandang kami yang sebetulnya sama dengan masyarakat kebanyakan yaitu membenci tindakan penyelewangan dalam bentuk apapun itu.. itu saja, sekali lagi mohon maaf jika ada yang kurang berkenan, udah ya.. lebih baik kita introspeksi diri masing2..

  • Anonymous says:
    30 April 2010 at 09:39

    mas erikson, gak usah mikirin itu, mending bantu aku buat ngangkat masalah itu jadi bahan skripsi aku bisa? pengennya sih tentang pengaruh pemberitaan gayus terhadap proses belajar mahasiswa stan (ato enaknya apa ya?)

  • Erikson says:
    30 April 2010 at 10:42

    @Anonymous:bantuinnn??hmmhhh jadi apanya ya?narasumber gt?apa kompetensi saya ya?hehehe.... kalo tema lain, banyak kok, cb aja maen ke perpus STAN.. disitu banyak referensi..
    salam kenal..

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.