Posts

15Th Reformasi: Menangkal Gagap Demokrasi

Image
Peristiwa Mei 1998 menjadi titik balik sistem pemerintahan Indonesia. Rezim otoritarian Soeharto yang berkuasa lebih dari 30 tahun tumbang secara dramatis oleh kekuatan rakyat dan mahasiswa. Korban berjatuhan. Tragedi tersebut telah mencatatkan sejarah kelam bangsa ini menuju demokrasi. Angin segar perubahan yang dibawa demokrasi telah melambungkan harapan rakyat di seluruh penjuru negeri. Demokrasi digadang- gadang akan mampu mengembalikan kedaulatan rakyat yang terpinggirkan (marginalized) berbilang tahun lamanya. Berbicara demokrasi maka berkaitan erat dengan kepentingan rakyat. Apapun ritual demokrasi itu, muara utamanya adalah menegakkan kedaulatan rakyat pada multiaspek. Rakyat adalah alasan demokrasi itu dilahirkan. Sebagaimana lazimnya sebuah sistem, maka kualitas pelaksanaannyalah yang menjadi penentu tingkat keberhasilannya. Tidak ada sistem yang sempurna tanpa cela, namun tidak ada cela yang tidak bisa diminimalkan. Dua unsur utama landasan pelaksanaan demokrasi adal...

Dicari: Kejujuran!

Image
Kejujuran. Satu hal yang makin terlihat absurd di jaman sekarang ini. Menjadi jujur sudah makin identik dengan menjadi bodoh. Pergeseran pemikiran semacam ini makin membuat kejujuran terdesak dan terasa asing, sebab memang menjadi jujur itu sulit, apalagi ditengah gempuran godaan duniawi dan kompetisi materi yang kerap ditonjolkan lingkungan sekitar. Semua dimulai dari hal kecil. Termasuk kejujuran. Jujur pada satu hal akan membuahkan sikap jujur pada hal yang lain. Tapi menjalankanya bukanlah tanpa resiko, perlu keberanian. Sebab sikap berani itu adalah benteng terakhir pertahanan prinsip kejujuran. Saat kita menyerah dan berhenti untuk jujur, maka saat itu pula kita mulai merasakan pertentangan dari nurani yang memberontak. Resiko menjadi jujur didunia ini adalah dicap bodoh, ketinggalan jaman dan jauh dari hidup mewah. Namun tidak ada rasa yang menandingi rasa kelegaan usai berbuat jujur. Tidak bisa ditampik, rasa itu melambungkan bahagia karena bisa mengalahkan dunia. Lebih jauh ...

Golput: Harga Mahal Sebuah Hajat Sakral

Image
Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) sudah masuk hitungan bulan, agenda elektoral sudah mulai gencar digaungkan dan dijalankan sejumlah Partai Politik. Hajat Besar lima tahunan ini selalu menjadi gerbang pengharapan akan kondisi kehidupan multiaspek yang lebih baik dari sebelumnya. Semua kekurangan selama lima tahun berharap dapat ditebus dalam satu hari pada 09 April 2014. Akan tetapi, benarkah kita telah bertekad kuat menuju perbaikan itu? Sebuah pertanyaan yang kerap muncul ditengah kenyataan rendahnya tingkat partisipasi pada ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di beberapa daerah negeri ini. Demokrasi Minim Partisipasi Menilik fakta mengenai tingkat partisipasi pada beberapa Pilkada sepanjang tahun 2012- 2013 tercatat bahwa di provinsi Bali dari 26% pemilih yang terdaftar pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak menggunakan hak pilihnya menjadi Golongan Putih (Golput). DKI Jakarta pada Pilkada yang menelurkan Jokowi sebagai Gubernur terpilih ternyata mencatatkan sisi gelap d...

Kepatuhan Wajib Pajak: Antara Potensi dan Ekspektasi

Image
Apa kesan yang didapat bila kita bertanya pada wajib pajak mengenai urusan perpajakan? Rumit! Mau tidak mau begitulah kesan yang harus diterima instansi Ditjen Pajak. Jangankan kepada Wajib Pajak yang usia NPWP nya baru seumur jagung, bahkan Wajib Pajak yang sudah terbilang bertahun lamanya kesan tersebut tetap ada. Mungkinkah ini merupakan penyebab rendahnya kepatuhan Wajib Pajak? Memang belum ada studi akademis yang fokus menggali perihal ini. Namun, setidaknya dalam berbagai kajian, kita sepakat bahwa “Kepatuhan Wajib Pajak” adalah salah satu indikasi utama keberhasilan Modernisasi Ditjen Pajak. Modernisasi Dalam Perangkap Ironi Sudah lewat satu dekade modernisasi bergulir, dimulai di tahun 2002 dengan dibentuknya Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar (Large Tax Office) yang khusus melayani sejumlah Wajib Pajak dengan kontribusi pembayaran pajak tertinggi (dalam skala nasional) berlanjut hingga akhirnya di tahun 2008 semua Kantor Pelayanan Pajak sah bergelar ‘modern’. Bicara k...

Belum Ada Judul

Image
Sampai saat kita nyaris tak percaya Bahwa roda nasib memang berputar Apa yang bisa diingat dari rangkaian cerita dan pengalaman? Nama orang? tempat? Jalan? Buku? Gunung? atau Sesap hangat secangkir kopi? Buatku semuanya benar. Semuanya tersimpan rapat dalam ingatan. Mahal dan mustahil berulang sebab hidup terus berjalan. Kita adalah tiap jiwa yang dicipta untuk mengisi hidup dengan cerita. Cerita apapun. Manis, pahit, duka, suka, tawa, lara, pedih, bangga, gembira. Terserah bagaimana kita menyebutnya karena cuma waktu yang bisa menguji tentang ingatan yang mungkin tetap terus terbawa. Cukup lama aku jalan sendiri Tanpa teman yang sanggup mengerti Apa yang bisa dipahami dari rentetan kisah dan kejadian? Adalah bahwa kita ada di garis sarat ajaran kehidupan. Bagaimanapun, tidak ada satu manusia yang bisa membuka hati manusia lainnya. Hati seseorang baru bisa terbuka hanya bila orang itu mau membukanya. Berjalan sendiri itu lebih baik daripada bingung ditengah keramaian. Disaat itu k...

Menata Hati: Titik Awal Keselarasan Perilaku

Image
Kita adalah apa yang kita pikirkan, ucap dan lakukan. Saat pikiran kita dijajah oleh belitan prasangka buruk atau jajahan rasa malas maka ucapan yang mengalir tidak akan jauh dari cercaan, hinaan dan respon keji lainnya. Dan kemalangan yang lebih tragis lagi adalah saat kita mulai benar- benar kehilangan kontrol atas pikiran dan ucapan tersebut, karena itu akan mendorong lahirnya tindakan yang barbar dan brutal. Diatas normal dan tidak wajar. Ini yang kerap kita saksikan di sekitar kita. Jamak terjadi peristiwa diluar batas kemanusiaan yang mengguncang logika justru dipantik hal kecil yang harusnya patut diabaikan. Nilai kehidupan memang kerap diisi hal buruk yang membudaya, maka kita memang dituntut untuk selalu waspada dan mampu menguasai diri. Saat yang menjadi fokus dunia adalah pikiran, ucapan dan perbuatan, maka satu aspek utama diatas itu semua tidak boleh ditinggalkan. Itulah hati. Hati adalah titik awal terdalam yang tidak akan bisa dijangkau sedalam apapun logika ilmu penge...

Asah Nyali Pada Kemudi.

Image
Besok akan jadi satu dari sedikit sekali hari yang bisa aku ingat seumur hidup. Menghadapinya melahirkan gugup dan ensasi emosi yang muncul bergantian antara cemas dan gembira atau antara gentar dan tak sabar. Iya, besok aku akan mengemudikan sendiri mobil ke daerah Koba untuk urusan dinas. Mengemudi, satu hal yang jelas masih jadi hal hebat bagi aku dan keluargaku. Aku cuma bisa menghela nafas dalam. Bersyukur, diberi kesempatan untuk bisa. Sebetulnya, aku tidak buta sekali soal mengemudi ini. Kalau untuk jalan lurus dengan arus lalu lintas yang lancar, aku sudah lumayan berani, sebab pekan lalu hampir 2 jam aku mengemudi dari Koba menuju kembali ke Pangkal Pinang. Namun itu juga ditemani rekan kantor dan begitu masuk wilayah kota menjelang lampu merah, kemudi kukembalikan padanya selain masih kikuk untuk turun ke jalan raya, khawatir ada razia mengingat aku belum ada SIM. Tapi untuk besok, aku berangkat berdua dengan atasan. Beliau sendiri yang memintaku untuk coba memberanikan dir...