5.27.2012

Finale: Catatan Pendakian Kerinci (III)

Alarm berbunyi pertanda persiapan untuk Summit Attack dimulai dan sesuai rencana, pukul 04.00 kami akan mulai bergerak menuju puncak Kerinci 3805 mdpl. Aku bangun paling awal, namun terdengar suara dari tenda sebelah yang rupanya sudah bangun terlebih dahulu, setelah 'mengumpulkan nyawa' beberapa menit, aku beranikan diri keluar tenda melawan udara dingin. Di Shelter III ini rupanya ada sekitar hampir 8 tenda dari dua tim yang berbeda, tim kami dan satu lagi tim Antjur. Dibawah sana, kota Sungai Penuh dan Desa Kersik Tuo nampaknya masih terlelap dalam tidur nyeyak. Satu- satu dari kami mulai terbangun dan bersiap dengan peralatan masing- masing serta peralatan kelompok; kamera, logistik, P3K, dan air minum serta sebuah daypack.

Senin. 14 Mei 2012, sekitar pukul 04.00 WIB.
Kami semua berdiri melingkar, lalu berdoa sebelum mulai menuju puncak, headlamp dalam status menyala karena kondisi gelap, beruntung beberapa meter awal medan menuju puncak didominasi pohon Cantigi dan jalur yang cukup jelas namun cukup sempit. Dalam kondisi gelap ini, terjalnya medan dan jauh nya jarak belum terlihat jelas, hanya pancaran lampu headlamp pendaki lain di atas sana yang terlihat kecil cukuplah menunjukkan bahwa jarak tempuh keatas begitu jauh dan terjal. Semakin keatas, vegetasi makin jarang ditemui yang ada hanya medan kerikil dan bongkahan batu vulkanik yang bisa dijadikan sandaran. Aku mengambil posisi didepan tepat dibelakang guide Herru, bersama dengan Riya.

+/- 1 jam kemudian...
Perjalanan kami makin berat, nafas kian tersengal- sengal. Medan yang dilewati murni pasir kerikil dan bersandar pada batu, sehingga sangat dianjurkan mengenakan sepatu trekking supaya menghindari infeksi kuku lantaran infiltrasi pasir. Berat dan curamnya medan ini berpadu dengan hawa dingin. Sangat tidak baik berdiam diri terlalu lama karena udara dingin ditambah kantuk bisa menyebabkan hipotermia. 15-20 langkah dan berhenti 1 menit, itu formula yang aku pakai. Persiapan fisik beberapa minggu sebelumnya benar- benar bermanfaat ketika dalam kondisi seperti ini karena ketahanan nafas berperan penting. Jaket tebal yang hangat, windstopper, sarung tangan begitu berguna. Bagi yang khawatir dengan pasokan Oksigen yang kurang, sebaiknya membawa Oxycan 500 cc untuk persediaan cadangan.

+/- 1 jam kemudian...
Langit mulai cerah, gelap berganti jingga dan Matahari mulai muncul dari ufuk Timur, Danau Gunung Tujuh terlihat jelas dan begitu indah, sementara di sisi Barat sana, Samudera Hindia terlihat jelas bahkan garis putih deburan pantai di tepi pantai barat Sumatera bisa terlihat. Kami menikmati pemandangan ini dari Tugu Yuda (3605 mdpl), sebuah Tugu yang dibangun untuk memperingati seorang pendaki bernama Yuda yang hilang disekitaran koordinat ini ketika menuju Puncak Kerinci. Dari sinilah kami menikmati sunrise dan melihat langit perlahan mulai terang. Aku dan Riya memutuskan untuk mendahului rombongan, karena aku khawatir pada kondisi fisik Riya yang bila dibiarkan terlalu lama istirahat membuat nya harus aklimatisasi lagi dari awal.

Menjelang pukul 07.00
Puncak Kerinci mulai terlihat jelas, suara- suara mereka yang sudah tiba terlebih dahulu terdengar menyemangati, apalagi bila bertemu rombongan lain yang justru sudah hendak turun. Menoleh kebawah, terlihat bentangan hutan hijau Kerinci, area tempat kami bermalam terlihat begitu kecil dan warna warni oleh tenda. Sejujurnya aku katakan, aku belum pernah se-enjoy ini dalam mendaki, medan yang berat kunikmati di tiap langkahnya, tanpa beban, atau ambisi apapun, hanya semata- mata untuk menikmati. Aku berjalan sambil menyemangati Riya dengan gaya intimidasi yang terdengar kejam atau memaksa, namun aku kira memang tidak ada cara lain dalam memperkenalkan suatu kegiatan pendakian. Selain kenyataan bahwa alam tidak akan pernah membedakan jenis kelamin, alam tidak akan memberitahu dahulu bilamana ia hendak murka. dsb. dsb. Dan aku sudah siap jika ini akan membuatku terlihat tidak berperasaan. Semata- mata kulakukan untuk kebaikan.

Sekitar Pukul 07.30 WIB
Puncak Kerinci akhirnya terlihat depan mata, membuat semangatku terpacu lebih kuat. Dan akhirnya sujud syukur ku kepada ALLAH.SWT karena tiba juga aku di Atap Sumatera 3805 mdpl. Semua rasa lelah terbayar dengan kepuasan dan keterpesonaan akan keindahan ciptaan ALLAH.SWT. Hutan hijau, Pemandangan Danau Gunung Tujuh, Samudera Hindia, dan Kawah Kerinci yang mengeluarkan kepulan asap belerang pekat. Pekatnya belerang memang membahayakan, sehingga aku minta Riya untuk tidak berlama- lama di puncak dan turun kebawah dengan rombongan Tim Antjur, sementara dengan masker aku masih tetap diatas sambil menunggu mereka yang masih di bawah sana.

And... We have such a celebration..
Akhirnya semua tim tiba juga di puncak, sempurna! Alhamdulillah. Riya, Herru, Uwi, Fita, Jainer, Aconk, Fikri, Bange, Yuda, Ame dan Suci. We did it!. It is time to perpetuate these precious moments!! 14 Mei 2012, mungkin bisa saja akan terlupa dalam kehidupan kita, tapi tidak dengan momen yang terjadi didalamnya, berdiri bersama di ketinggian 3805 mdpl, Puncak Berapi Tertinggi di Indonesia, Atap Sumatera berkat ridho Tuhan yang Maha Kuasa.

Kepada semua tim Kempo, terima kasih banyak, i salut you for being brave and strong! dan dari sini perjalanan kita masih panjang, juga terima kasih banyak kepada Herru dan Bang Johan atas bantuannya selama di Kersik Tuo dan menemani pendakian ini. Juga kepada Tim Antjur, plang baru buatan dari tim ini kami jadikan model dalam beberapa poto yang kami ambil. juga khususnya kepada Ociel atas bantuannya merawat Riya yang tepar ketika tiba di Shelter III dan menemani nya ketika turun kembali kebawah. Tak lupa juga kuucapkan terima kasih kepada Kak Feri dan Andreas yang membantu ketika kami di Jambi dan memberi kami bantuan transportasi serta tumpangan menginap sebelum meneruskan perjalanan ke Kerinci.

Mei 2012
Salam.
Ebas.

P.S:
----
Photo Courtesy BY: Moehammad A Noeryadi & Bhulblues Antjur

2 komentar:

  • Seagate says:
    28 May 2012 at 07:49

    Untuk menjadi seorang penjelajah besar, dia bukan hanya harus mampu menaklukkan medan di depannya, tapi juga harus bisa menjadi story teller untuk bisa menggambarkan pengalamannya kepada pembaca. Setelah membaca beberapa seri tulisan pendakian ini, kamu telah melakukannya dengan baik, nicely done :)

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    28 May 2012 at 18:44

    @Seagate: semoga catatan cerita perjalanan ini bisa bermanfaat buat siapapun yg membutuhkan nantinya. Terima kasih banyak Mas Sigit atas supportive comment nya. It means a lot! :)

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.