3.07.2013

Prahara Baturaja: Potret Buram Disharmoni TNI POLRI

Cerita disharmoni TNI & POLRI bukanlah kabar baru di negeri ini. Peristiwa kerusuhan yang dilakoni dua institusi ini terakhir terdengar di Gorontalo, Sumatera Utara (Belawan) dan Maluku (Masohi). Ketiganya terjadi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Dan hari ini, cerita kelam itu terjadi lagi. Markas Polres Ogan Komering Ulu, Baturaja, Sumatera Selatan habis dibakar oknum TNI dari kesatuan Yon Armed Martapura. Pertanyaan kemudian muncul. Ada apa?

Sebuah Kronologis dan Konflik Individual Personil

Menarik untuk dicermati. Bagaimana sebuah isu personal individu kemudian bisa mengalami eskalasi hingga tataran institusional. Pasca rekonstruksi perkara di Mapolda Sumsel terungkap bahwa Prahara Baturaja bermula dari rasa sakit hati oknum POLRI yang tengah bertugas di pos jaga mendapati serangan verbal dari oknum TNI yang sembari melaju dengan sepeda motor. Mulutmu harimaumu. Pepatah ini kemudian muncul menjadi kebenaran bagi sang oknum TNI. Oknum POLRI yang dikuasai emosi dan sakit hati bereaksi dengan mengejar lalu melesakkan tembakan ke oknum TNI yang kemudian jatuh sekarat dan wafat dalam perjalanan sebelum memdapat tindakan medis. Emosi berujung sesal, pameo ini tidak berlebihan bila dinisbahkan atas peristiwa ini. Satu dibui satunya lagi tewas.

Penulis yang notabene penduduk Baturaja melihat ekses peristiwa ini dilapangan beberapa waktu lalu ketika pulang ke Kampung Halaman. Baturaja Tanpa Polisi. Itu benar terjadi, seolah sudah tahu potensi kericuhan yang dapat muncul, petugas POLRI yang biasa berjaga di jalanan lalu lintas, selama hampir beberapa pekan tidak tampak terlihat. Sudah jadi rahasia umum bahwa jiwa kebersamaan di kalangan TNI begitu tinggi, mungkin asumsi ini yang mendasari sangkaan munculnya potensi serangan dari oknum kelompok TNI. Sehingga POLRI di lapangan diputuskan untuk 'dihilangkan' dari pandangan khalayak umum juga khalayak TNI.

Dari sini, isu individual meruyak menyeret prestis institusi dan memunculkan potensi kerusuhan. Terlebih terkait kabar bahwa belum ada kepastian hukum yang jelas ihwal insiden penembakan tersebut dalam dua bulan ini. Prasangka intervensi dan independensi pengambilan keputusan mengemuka. TNI yang dalam insiden ini berada dalam posisi korban yang ditembak, mengalami kondisi psikis semacam disepelekan. Dan sebagai entitas yang kuat sekelompok oknum TNI mengambil sikap.

Eksekusi pilihan sikap lewat atribut lengkap jelas menyeret institusi sadar atau tidak. Sekelompok oknum TNI mendatangi Mapolres OKU untuk meminta penjelasan ihwal proses hukum terkait Almarhum rekan mereka. Namun apa yang mereka terima mungkin tidak sesuai harapan sehingga memicu tindakan barbar dan destruktif. Sebuah ekses yang mengaburkan masalah awal yang sebenarnya. Sofistikasi yang seharusnya bisa dicegah lewat sikap tanggap dan keterbukaan serta kerendahan hati kedua pihak. Tapi bukan tidak mungkin ada penyebab lain yang sudah menahun dan mengendap tanpa sadar selama ini seperti kesenjangan sosial, kerenggangan hubungan dan ketidakpuasan masyarakat.

POLRI Diuji! TNI Unjuk Gigi?

Dimata penulis, POLRI adalah institusi yang kini tengah gencar mengangkat citra sebagai sebenar- benarnya pengayom masyarakat. Melalui profesionalisme pelayanan, keramahan dan sikap cepat tanggap dalam menerima aduan.

Prahara Baturaja adalah ujian konsistensi dan kebersediaan untuk introspeksi diri POLRI. Bagaimana tidak, saat pembakaran terjadi, sama sekali tidak muncul reaksi simpati atau defensif dari masyarakat untuk membela POLRI. Bahkan di media sosial pun terisi ekspresi dari banyak pihak bahwa insiden pembakaran ulah sekelompok oknum TNI adalah 'terapi kejut' bagi POLRI untuk menyadari bahwa masih banyak ruang untuk memperbaiki diri agar masyarakat benar- benar merasa terayomi dengan kepastian hukum yang tegas dan transparan.

Masyarakat bagaimanapun membutuhkan POLRI untuk menciptakan keamanan di kehidupan sipil. Dan POLRI pun bisa mandul tanpa masyarakat selaku subjek hukum yang mereka kelindani. Hubungan ini adalah konsekuensi logis dari kontrak sosial kenegaraan kita. Tidak ada yang lebih superior, semuanya sama.

Sementara itu, TNI adalah martabat dan kehormatan negara, mereka adalah simbol wibawa negeri ini dari berbagai ancaman kedaulatan yang dapat muncul secara multiarah. Wibawa itu terlalu agung untuk menyulut kerusuhan tidak perlu atau untuk sekedar menunjukkan jati diri dihadapan apapun atau siapapun. Masyarakat ada bersama TNI jika keagungan yang diamanahkan untuk mereka ditempatkan secara mulia, bukan untuk keakuan. Aksi barbar dan destruktif jelas merugikan negara dengan motif apapun.

TNI dan POLRI menjadi gagah dan berwibawa bukan karena seragam yang mereka pakai. Tapi karena tugas mulia yang diamanahkan untuk mereka. Prahara Baturaja adalah momentum untuk menyadarkan kembali kedua pihak tentang hal tersebut sekaligus sebagai pelajaran betapa masyarakat akar rumput sudah jengah dengan arogansi berbalut seragam.

Harmonisasi Tripartit.

TNI dan POLRI harus bersedia duduk bersama di tiap level, mulai dari para pimpinan hingga aparat di lapangan, ini adalah syarat mutlak mewujudkan perdamaian. Dialog adalah jalan untuk membuka kesadaran tentang tugas mereka seharusnya dan tentang bagaimana belajar menghargai satu sama lain dalam bentuk apapun. Terutama lisan! Tapi apa cukup hanya kedua pihak itu saja? Tidak! Masyarakat harus dilibatkan sebagai elemen kunci di lapangan.

Masyarakat adalah pemangku kepentingan ihwal indikator kinerja kedua pihak. Upaya habis-habisan POLRI membangun citra dan memperbaiki diri harus menyentuh masyarakat di lapangan melalui sikap profesional aparat yang bertugas agar tidak jauh panggang dari api. Bagi TNI, masyarakat adalah kontrol sosial bagi perilaku anggota mereka, praktik tak santun di lapangan oleh oknum TNI yang membawa nama kesatuan jelas menciderai masyarakat dan tugas mulia TNI itu sendiri.

Diantara ketiga pihak ini harus terbangun rasa percaya, sikap saling menghormati dan keterbukaan demi mewujudkan ketenangan dan kedamaian. Prahara Baturaja telah membuat kotak pandora terbuka sekaligus bak pelangi pasca badai. Tergantung bagaimana kemudian kita menyikapinya.

2 komentar:

  • Addien says:
    7 March 2013 at 22:11

    Ok. Intinya kembali jiwa dalam dada yang berisi iman. Banyak persoalan di alam ini yang perlu diselesaikan dan itu belum tentu dapat diselesaikan oleh kita perseorangan.

  • masichang says:
    8 March 2013 at 14:00

    selama urusan ganjal perut belum dicukupi rasanya konflik ini akan terus ada, apapun pemicunya....

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.