Pondasi Hidup

Assalamualaikum.. apa kabar semua? dunia ini indah bukan?hidup ini juga bewarna kan?paling tidak begitulah seharusnya.. dan dalam setiap langkah hidup menurut saya adalah tertuntun menurut alur doa dengan jalan cerita yang tak pernah terjadi secara kebetulan, setujukah teman2? itu hak kita untuk berbeda dan janganlah dipaksa untuk menjadi sama... demikian pula tentang apa yang tersimpan didalam hati kita ini, hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu, betul?tapi paling tidak buat saya, ada ruang2 di hati saya tempat saya menyimpan cita-cita dan keinginan saya di masa depan.. bukanlah suatu hal yang tidak mungkin jika ada seseorang didunia ini yang menyimpan keinginan kuat di hatinya untuk menjadi orang yang mampu merubah dunia, menginginkan menjadi orang yang besar dan disegani di mata dunia, bahkan saya rasa saya bukanlah satu2 nya didunia ini, ada banyak saya yakin..

Namun rupanya hanya sedikit saja yang berkeinginan untuk merubah dirinya sendiri menjadi manusia yang lebih baik, dan pada suatu ketika saya diketemukan oleh ALLAH.SWT pada peristiwa yang membuat saya berpikir dua kali dan memutuskan untuk merubah diri saya terlebih dahulu, bahasa singkatnya, membangun pondasi hidup. semakin tinggi pohon semakin tinggi anginnya dan manakala seseorang belum matang bisa jadi jika ia tetap memaksakan untuk menjadi orang besar dan berkedudukan, ia tak kuat menghadapi cobaan2 tersebut.. dan mereka yang tetap berkeinginan untuk menjadi demikian ini adalah orang2 yang telah menjadi ambisius, saya sendiri bagaimana?mungkin saja saya adalah seperti itu paling tidak saya pernah merasakan menjadi demikian... dan mereka yang telah menjadi pohon2 yang tinggi telah memiliki pondasi yang kuat untuk menahan terpaan angin dan badai, yang terbentuk dalam hitungan tahun oleh pengalaman2 yang bermakna.
setiap orang ingin menjadi sukses, berhasil.. dan setiap orang memiliki definisi masing2 tentang sukses ini, entah saya salah atau benar, kebanyakan masyarakat menilai sukses seseorang diukur dari seberapa tinggi pangkatnya, seberapa banyak hartanya dan seberapa besar pengaruhnya dan perintahnya didengarkan dan dipatuhi.. jika saja rupanya banyak pemuda2 yang dengan malang telah termakan opini maka tidak salah jika saya katakan rupanya masyarakat harus menanggung akibat atas opini yang mereka lemparkan, karena ini membentuk makna sukses bagi sebagian pemuda yang belum paham pilosopi hidup dan nilai2 kehidupan, kasihan mereka, kasihan diriku..
Ada yang hampit buta, karena memang ambisi dan optimis beda tipis, ambisi membuat seseorang menjadi terlalu termotivasi, amat yakin dengan segenap usaha dan kerja kerasnya, sehingga melupakan kekuatan dan kuasa ALLAH.SWT, menganggap rendah orang lain dan melupakan fitrahnya sebagai manusia yang hanya ditugaskan untuk berusaha dan berdoa, bukan meyakinkan akan pencapaian hasil dan bagaimana hasilnya itu. jikalau ia gagal yang terjadi adalah sakit psikologis yang amat sangat yang tak akan sembuh dalam hitungan hari, bisa minggu atau bahkan bulanan, miris tapi begitulah faktanya.. dan seorang yang optimis juga akan tetap merasa kecewa jika ia gagal, namun itu hanya sebentar.. karena dalam perjalanan memperjuangkan cita2nya, seorang optimis tetap menjaga hatinya dari ketakaburan dan kesombongan, doa2 yang ia panjatkan membuat dirinya yakin bahwa ALLAH.SWT ada dibalik segala hal, lewat kuasanya masalah sebesar apapun, dapat terselesaikan, dan hal sesulit apapun akan termudahkan.. dengan bekal yang tertanam inilah.. seorang optimis yang mengalami kegagalan tak akan berhenti berusaha, bangkit kembali dengan tetap tidak melupakan fitrahnya yang hanya ditugaskan untuk berusaha dan berdoa.. sebuah doa yang menjadikan hatinya lapang dan penuh syukur, jauh dari iri dan kebencian, karena ada sesuatu hal didalam hatinya yang ia tak tahu apa itu, telah meyakinkan dirinya bahwa masa depan yang cerah menanti di hari esok, sesuatu hal itu juga yang mampu menepis rasa takut tentang masa depan dan kebencian/iri/rasa marah pada orang lain yang telah dikaruniai anugerah yang kita inginkan.
Hidup saya bukanlah untuk diri saya sendiri rupanya , untuk anak-anak dan istri saya kelak jika tiba saatnya saya berkeluarga nanti, untuk karir dan pekerjaan saya pula dan tentu saja buat keluarga besar saya tempat saya dilahirkan dan dibesarkan.. banyak orang yang tersesat oleh ambisi pribadi sehingga melupakan orang2 disekitarnya yang telah ia lupa bahwa dulu mereka2lah yang membuat ia seperti sekarang, omong kosong itu usaha dengan tangan sendiri tanpa bantuan orang lain.. dalam perjalanan hidup saya, sebuah kegagalan yang saya alami telah menyadarkan siapa saya sebenarnya, siapa2 yang telah membantu saya dan saya rupanya kembali diingatkan tentang asal usul sejarah saya, anak seorang pekerja keras serabutan yang telah bekerja keras agar anaknya, saya ini, bisa menjadi maju lebih baik dari ia. bisa jadi inilah cara ALLAH.SWT agar saya, hambaNYA ini, selalu ingat untuk bersyukur dan lebih peka dengan orang2 di bawah saya, karena ambisi telah banyak membuat orang menjadi terus mendongakkan kepala melihat ke atas, sehingga gelisah karean tidak bisa menyamai orang2 diatasnya.
Mirip sebuah perumpamaan apel rupanya, kehidupan orang lain yang tampak manis tanpa liku, selalu dinamis dengan senyum ringan tak berbeban, ternyata didalamnya menyimpan beban yang bisa jadi lebih besar dr beban orang lain kebanyakan adanya, seperti halnya apel yang mungkin saja ada ulat didalamnya. manis rasanya bersyukur itu, betul. dengan doa2 yang menyiratkan penghambaan yang membutuhkan bantuan dan kemudahan, bukan doa yang sifatnya mengancam, memaksa yang menjadikan hati ini kian khawatir dan cemas kalau2 doa2 itu ditampik. seyogyanya kesadaran macam inilai yang lebih baik ditanam, kesadaran bahwa rasa silau akan gemerlap kesempurnaan hidup orang lain adalah kesenangan yang menipu, pandangan yang membuat kita kehilangan manajemen diri dan merubah gaya hidup agar tampak sama dengan orang yang kita lihat, padahal tidaklah perlu sama sekali.yang semestinya terjadi adalah tidak pada tempatnya kita melupakan bagaimana kehidupan kita yang sebenarnya, dan keluarga kita adalah kehidupan kita yang sebenarnya, bukan dalam tangisan akan kebersamaan dengan orang lain, bukan dalam gelak tawa dengan orang lain, dan bukan dalam rutinitas harian antara kantor dan kuliah.Untuk kemudian dr situ kita menyebarkan nilai2 kehidupan ke lingkungan yang lebih luas.
saat menulis posting ini pikiran saya melesat balik ke suatu malam yang akan selalu saya ingat insyaALLAH, malam tanggal 5 Januari 2009, saat saya dan seorang teman berdiskusi secara mendalam sampai waktu subuh tentang banyak hal : manajemen diri, prinsip hidup, ketakutan2, pondasi hidup dan ingin menjadi apa dalam hidup. seorang teman yang sedikit banyak telah membuka pikiran saya,dan saya rasa inilah jawaban ALLAH.SWT atas doa saya selama ini untuk dituntun selalu ke jalan yang lurus, pertemuan dengan teman inilah bisa jadi adalah caraNYA mengembalikan saya ke titik normal kembali dan memahami hakikat hidup dan pencapaian cita2 dengan membangun pondasi hidup yang kuat dan berprinsip.
Wassalamualaikum...
P.S.:
Terima kasih banyak kepada Bang Efri Rangkuti, atas sharing malam kemaren itu semoga nilai2 kehidupan yang baik tetap tertinggal didalam jiwa saya dan semoga ALLAH.SWT berkenan menjaga saya selalu agar tidak kembali ke keburukan setelah Ia mengkaruniai saya dengan petunjuk,amin..
dan untuk semua orang yang telah membantu saya dalam hidup ini, terima kasih banyak (orang tua, saudara2, sahabat dan teman2 saya) dan buat diri saya sendiri: Jangan Sekali2 Melupakan Sejarah!!!.



Popular posts from this blog

Melanjutkan Studi di UNSOED

Harapan Hari Tua

Selamat Jalan, Teman!