4.06.2014

Bila 'Ngopi' Tak Lagi Sederhana

Minum kopi kini tidaklah sesederhana dulu. Kopi kini bukan lagi sekadar minuman hangat tapi menjadi budaya yang penetrasinya tak kenal latar belakang sosial. Mulai dari buruh harian, petani, pekerja kantoran dan abdi negara tak lepas dari sengatan budaya baru in. Coffee Culture. Disebut baru karena budaya ini telah mengangkat kasta 'aktivitas ngopi' beberapa tingkat lebih tinggi sebagai titik awal pertalian sosial, terutama bagi kaum urban. Akhirnya jelas, kita dapati bahwa hanya sedikit dari mereka yang pergi ke kedai kopi dengan tujuan untuk menikmati olahan biji kopi, kebanyakan hanya untuk bercerita, menikmati suasana atau mengikuti isu terkini baik lokal atau mancanegara.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Kita hanyalah manusia yang mencoba bertahan didalam putaran budaya. Termasuk ihwal budaya menikmati kopi. Bila dulu saat masih kecil kita lihat orang tua kita minum kopi sampai sehari tiga kali, mereka menikmatinya. Terlebih bila biji kopi itu adalah hasil kebun dan diolah sendiri. Pun demikian pula di setiap acara di lingkungan setempat. Kopi bak syarat mutlak agar acara berjalan khidmat. Kala itu, kopi adalah kopi. Minuman hangat tinggi caffein untuk membuat tubuh terjaga. Tidak ada masalah soal jenis, asal atau olahannya. Begitu sederhana, namun tetap dapat dinikmati.

Namun kini, 'ngopi' makin rumit saat kita dihadapkan pada ragam varian dengan harga yang beda pula. Mungkin bukan soal harga, tapi soal bagaimana kita bisa tetap 'ngopi' dengan nikmat tanpa terganggu dorongan untuk mencicipi semua varian yang pada gilirannya membuat kita berpikir bahwa seharusnya 'ngopi tidaklah serumit ini'. Ceritanya pun makin pelik saat kita lihat bahwa kedai kopi, baik lokal maupun internasional, tidaklah benar- benar menjual kopi tapi juga menjual konsep dan suasana. Semua itu pada akhirnya membuat kita harus berpikir keras hanya untuk menikmati secangkir kopi yang seharusnya sederhana.

Tapi ya sudahlah, tulisan ini tak hendak menentang gempuran pasar dan budaya global yang kini kian dekat dengan gaya hidup kaum urban. Hanya saja, ada baiknya para pecinta kopi agar tetap menikmati kopi apa adanya dengan sederhana. Agar para pria beristri tak perlu lagi mampir dulu ke kedai kopi usai jam kantor, sementara istri dan anaknya menunggu dirumah. Sebab bisa saja kopi sajian sang istri lebih nikmat dengan cita rasa cinta yang kuat dan suasana home sweet home. Lebih dari itu semua, agar kita ingat bahwa minum kopi sebagai gaya hidup akan lebih hidup bila dinikmati dengan apa adanya. Sederhana.

P.S.
-----
I am not a coffee addict.

2 komentar:

  • Nash says:
    6 April 2014 at 14:09

    Saya sendiri bukan penikmat kopi. Kopi kadang hanya sebagai pelengkap suasana. Saya penikmat suasana. Sejujurnya saya sendiri tidak tau budaya ngopi yg sebenarnya itu seperti apa, apa benar seperti yg diceritakan Andrea Hirata dalam novel Padang Bulan, atau saya sudah membaca Filosofi Kopi nya Dee dan mencoba mengaplikasikan nya, namun bagi saya kopi tetaplah kopi, sbg pelengkap suasana belaka. Hehe

  • Erikson Bin Asli Aziz says:
    6 April 2014 at 14:15

    @Nash: trims sdh mampir. Kalau kopi sbg pelengkap, maka bisa dipastikan loe g pernah terlalu dipusingkan dgn ragam variannya yg kini makin marak, dan itu menyenangkan tentunya. :-)

Post a Comment

Jangan ragu untuk komentar.. :) Dan untuk menjaga komentar spam, mohon isi dulu kode verifikasi nya.. Trims.